Model Prediksi Risiko Berbasiskan AI Bantu Cegah Amputasi Kaki pada Pasien Diabetes

Avatar photo

- Pewarta

Kamis, 14 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Apresiasi

SINGAPURA, 14 Mei 2026 /PRNewswire/ — Pemantauan kesehatan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien segera menjadi standar baru dalam penanganan pasien diabetes yang berisiko tinggi mengalami amputasi pada tungkai bawah (lower extremity amputation/LEA). Dikembangkan oleh Singapore General Hospital (SGH), SingHealth, dan MOH Office for Healthcare Transformation (MOHT), model kecerdasan buatan bernama LEA – Neural Network Model (LEA-Net) membantu tenaga medis mendeteksi risiko amputasi secara lebih dini agar langkah pencegahan dapat ditempuh sebelum kondisi pasien memburuk.

LEA-Net mampu memprediksi risiko amputasi tungkai bawah pada periode tiga hingga lima tahun sebelum pasien mengalami luka dan infeksi pada kaki. Dengan demikian, tim medis dapat melakukan intervensi sebelum terjadi kerusakan jaringan permanen. Model tersebut menggolongkan pasien dalam kategori risiko rendah dan tinggi sehingga mempermudah prosedur intervensi yang lebih tepat sasaran sekaligus mengurangi waktu tunggu pasien untuk mendapatkan penanganan spesialis vaskular. Di Singapura, hampir sembilan dari 10 pasien yang menjalani amputasi tungkai bawah diketahui menderita diabetes. Sekitar 85% kasus amputasi juga diawali luka pada kaki.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Amputasi tungkai bawah menimbulkan dampak serius terhadap mobilitas, kemandirian, hubungan sosial, hingga kondisi kesehatan pasien. Pasien diabetes atau penyakit vaskular yang telah menjalani amputasi juga lebih berisiko mengalami komplikasi luka dan kehilangan anggota tubuh lainnya. Dari sisi finansial, dampaknya juga besar. Intervensi tahap awal rata-rata menelan biaya sekitar US$25.000, sedangkan biaya penanganan tahap lanjut dapat melampaui US$40.000 hingga US$50.000 per pasien.

Pasien diabetes umumnya menjalani pemeriksaan tahunan untuk kondisi kaki, mata, dan fungsi ginjal. Namun, tingkat kepatuhan pasien terhadap pemeriksaan kaki diabetik masih lebih rendah dibandingkan dua pemeriksaan lainnya. Banyak pasien baru mencari bantuan medis ketika luka atau infeksi telah muncul sehingga meningkatkan risiko amputasi, serta komplikasi lain seperti komplikasi operasi hingga kematian.

LEA-Net dikembangkan dengan data anonim yang terdiri atas lebih dari 830.000 rekam medis pasien SingHealth, termasuk data demografi, kondisi klinis, dan hasil pemeriksaan medis. Dari jumlah tersebut, sekitar 250.000 rekam medis digunakan untuk validasi model. Model ini menunjukkan tingkat sensitivitas hampir 80% dan spesifisitas mendekati 90% dalam memprediksi risiko amputasi tungkai bawah. Kinerja ini jauh lebih baik dari sejumlah model lain untuk kedua parameter tersebut.

Hasil pengujian model menunjukkan pasien berisiko tinggi dapat teridentifikasi pada periode krusial sebelum munculnya luka dan infeksi. Model ini juga mencerminkan pergeseran menuju layanan kesehatan preventif berbasiskan data dalam program Healthier SG.

LEA-Net meraih "People’s Choice Award" dalam ajang International Consortium for Health Outcomes Measurement Conference 2025 (ICHOM) 2025 di Dublin, Irlandia. Tim pengembang LEA-Net kini berupaya melakukan validasi lebih lanjut terhadap efektivitas klinis melalui studi percontohan yang melibatkan pasien dari Diabetes Registry milik SingHealth.

 

Berita Terkait

HUAWEI eKit Luncurkan Intelligent Office Solution 2.0, Hadirkan Akses Teknologi Cerdas bagi UKM
Manfaatkan Setiap Sinar Matahari, Terangi Wilayah yang Belum Dialiri Listrik: Global Low-Carbon Industry Forum 2026 Bahas Solusi guna Menutup Kesenjangan Akses Listrik
EyeROV: Startup Deep-Tech India Pamerkan Drone Bawah Airnya kepada Para Pemimpin Dunia
Xinhua Silk Road: Tiongkok Buka Kanal Utama dari Sungai ke Laut, Ciptakan Jalur Pintas Perdagangan ke Asia Tenggara
Seminar Internasional APEC 2026 Bahas Inovasi Desain Berbasis AI
Program MBA SMU Raih Peringkat Ketiga di Asia dalam QS Global MBA Rankings 2027
INVT Hadirkan Solusi Kelistrikan dan Liquid Cooling untuk Modernisasi Pusat Data di Ajang Data Centre World Asia 2026
Zhou Jianjun dari Huawei: Membangun Solusi AIDC Grid-Interactive untuk Memaksimalkan Token per Watt

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 08:31 WIB

HUAWEI eKit Luncurkan Intelligent Office Solution 2.0, Hadirkan Akses Teknologi Cerdas bagi UKM

Jumat, 18 September 2026 - 08:27 WIB

Manfaatkan Setiap Sinar Matahari, Terangi Wilayah yang Belum Dialiri Listrik: Global Low-Carbon Industry Forum 2026 Bahas Solusi guna Menutup Kesenjangan Akses Listrik

Jumat, 18 September 2026 - 06:26 WIB

EyeROV: Startup Deep-Tech India Pamerkan Drone Bawah Airnya kepada Para Pemimpin Dunia

Jumat, 18 September 2026 - 02:43 WIB

Xinhua Silk Road: Tiongkok Buka Kanal Utama dari Sungai ke Laut, Ciptakan Jalur Pintas Perdagangan ke Asia Tenggara

Jumat, 18 September 2026 - 01:25 WIB

Seminar Internasional APEC 2026 Bahas Inovasi Desain Berbasis AI

Berita Terbaru

Pers Rilis

Seminar Internasional APEC 2026 Bahas Inovasi Desain Berbasis AI

Jumat, 18 Sep 2026 - 01:25 WIB